Translate

Thursday, 19 December 2013

PEDULI LINGKUNGAN

PT. INDOKOR BANGUN DESA merupakan perusahaan yang bergerak di bidang budidaya udang untuk di ekspor. Perusahaan ini selain mencari target penghasilan juga melakukan kegiatan untuk memelihara lingkungan sekitar. Salah satu langkah konkrit yang dilaksanakan dalam Program "Peduli Lingkungan" tersebut yaitu: PT. Indokor Bangun Desa melakukan percobaan penanaman mangrove (Rhizophora mangle) di area sekitar saluran pembuangan air budidaya.


 Pada percobaan penanaman mangroove (Rhizophora mangle) ini ditanam sebanyak 100 pohon mangroove. Penanaman pohon mangroove ini dikerjasamakan dengan taruna taruni SMKN 1 Tanjungsari Gunungkidul dan dikoordinir oleh bagian Personalia dan Umum PT. Indokor Bangun Desa.
Adapun proses penanaman mangroove (Rhizophora mangle) dapat dilihat  pada gambar berikut ini:

1. Persiapan patok


 2. Persiapan mangroove

3. Penanaman Mangroove (Rhizophora mangle)

4. Pemasangan Patok

Monday, 4 March 2013

Kegiatan Panen



Pemanenan udang dilakukan setelah umur pemeliharaan udang 100 hingga 120 hari atau sesuai dengan kebutuhan pembeli. Sebelum pemanenan dilakukan sampling. Sampling ditujukan untuk melihat berat udang apakah sudah mencapai target berat atau belum. Satu minggu sebelum pemanenan biasanya dilakukan pengapuran. Pengapuran bermaksud untuk mencegah aktivitas moulting apabila udang belum moulting dan mempercepat moulting apabila udang sedang moulting sehingga kualitas udang bagus dan udang lebih berat.
Sebelum dilakukan pemanenan dibentuk pembagian kerja atau panitia pemanenan sehingga semua karyawan bekerja dan tahu posisi dimana dia harus bekerja. Pemanenan petak besar Growth Pound/GP (60 x 60 meter) membutuhkan waktu ± 4 jam untuk tiap petak. Panen biasanya dilakukan pada pagi hari, yaitu pukul 07.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Pemanenan dalam satu hari dapat dilakukan sebanyak 2 kali pemanenan petak besar. Sebelum dilakukan pemanenan biasanya pada malam hari sudah dilakukan pengurangan level air dengan membuka saluran central drainage sehingga ketika akan panen air tambak sudah berkurang 60 %.
Proses pemanenan udang putih vaname yang dilakukan sebagai berikut:
1.      Mempersiapkan peralatan panen (blong, meja, pemikul, jaring kondom) dan bagian pasca panen.
2.      Memasang jaring kondom pada outlet caren yang terdapat pada bak panen.
3.      Membuka skat balk dan mengatur besar kecilnya air yang keluar.
4.      Mematikan kincir dan memindah ke tepi tambak sehingga tidak mengganggu proses pemanenan.
5.   Petugas yang berada di bawah bak panen menjaga dan menunggu udang terkumpul dalam jaring kondom.
6.      Udang yang sudah terkumpul dalam jaring kondom kemudian diangkat oleh petugas yang berada di atas kemudian dimasukkan ke dalam blong dan diberi penutup sehingga udang tidak kering.
7.      Blong yang sudah terisi udang kemudian dipikul dan dibawa ke mobil untuk diangkut ke pasca panen.
8.      Setelah mobil penuh dengan blong atau drum yang berisi udang kemudian dibawa ke pasca panen.
9.      Udang yang tidak mau masuk ke dalam caren dan tersisa pada dasar tambak kemudian diambil secara manual sehingga tidak ada yang tertinggal.
Setelah udang vanname sampai di bagian pasca panen, penanganan udang diserahkan kepada pihak cold storage yang membeli. Ada pihak cold storage yang memasukkan udang ke dalam bak air sehingga udang tetap basah dan segar, adapula yang menaruh udang pada lantai pasca panen. Udang – udang tersebut kemudian dicuci dan dilakukan sampling prosentase KM (Kondisi Moulting) dan size udang. Proses sampling udang dilakukan oleh pihak cold storage yang diawasi oleh perusahaan. Proses sampling size udang dan kondisi udang yaitu sebagai berikut :
1.      Udang yang telah dicuci dimasukkan kedalam basket.
2.      Basket tersebut kemudian dibagi menjadi 4 basket secara merata.
3.   Setelah basket dibagi menjadi 4 basket kemudian perusahaan/penjual memilih salah satu dari empat basket tersebut secara acak.
4.     Basket yang telah dipilih kemudian diambil dan dihitung jumlah udang, berat sampel, jumlah udang KM (kondisi moulting) dan kemudian dihitung size udang.

Sejarah Indokor Bangun Desa



Perusahaan PT. Indokor Bangun Desa di Jogjakarta dibangun tahun 1999 dan selesai serta dapat berfungsi pada tahun 2000. Sebelum membuat tambak perusahaan PT. Indokor Bangun Desa menyewa tambak dan digunakan sebagai kolam percobaan di daerah pantai Glagah, Kulonprogo. Setelah pembangunan tambak milik PT. Indokor Bangun Desa yang berada di Desa Kuwaru selesai, aktivitas budidaya kemudian dilakukan di area perusahaan PT. Indokor Bangun Desa.
Usaha yang masih berlanjut adalah divisi tambak dan pengembangan usahanya menempati divisi hatchery. Divisi hatchery tidak dapat berlanjut karena dalam membenihkan benur tidak berhasil dan sering mengalami kematian sehingga divisi hatchery berhenti.
Divisi hatchery yang sudah terbengkalai dimanfaatkan untuk mendukung usaha budidaya. Dahulu divisi tambak belum memiliki laboratorium dan sekarang divisi tambak menggunakan laboratorium yang ada di divisi hatchery, serta masih banyak lagi sarana dan prasarana yang digunakan untuk mendukung kegiatan pembesaran udang.
Komoditas yang dahulu dikembangkan perusahaan ini yaitu udang windu (Penaeus monodon), sedangkan sekarang perusahaan memilih komoditas udang putih vaname (Litopenaeus vannamei) karena selain udang putih vaname lebih tahan terhadap serangan penyakit daripada udang windu juga karena udang putih vaname memiliki padat tebar yang tinggi dan pertumbuhannya lebih bagus dibandingkan udang windu.

Lokasi tambak PT. Indokor Bangun Desa terletak di tepi laut dan berjarak ± 35 km dari kota Jogja ke arah selatan, yaitu tepatnya di Dusun Kuwaru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan pantai Samudera Indonesia, sebelah barat dan utara berbatasan dengan Dusun Kuwaru, sebelah timur berbatasan dengan Dusun Cangkringan. Lokasi tambak berjarak 200 meter dari garis pantai dengan elevasi ± 5 meter dari permukaan air laut. Luas area tambak 20 Ha dengan lahan yang sudah dimanfaatkan sebesar 7,5 Ha. Kawasan tambak terdapat dalam daerah coastal supratidal dengan sekeliling tambak berupa gundukan pasir dan tumbuhan. Sebelah utara tambak terdapat sungai yang pada waktu musim hujan terisi air dan pada waktu musim kemarau merupakan lahan tanaman.
Lahan yang digunakan untuk usaha tambak merupakan tanah pasir yang merupakan Sultan Ground (SG) yang sebelumnya dumanfaatkan oleh penduduk untuk pertanian. Lahan garapan penduduk yang sekarang dipakai perusahaan, diberi ganti rugi dari perusahaan atau disebut magersari (sebesar 10 % laba panen setiap tahunnya untuk bendahara desa dan keluarga yang tergusur tanah garapannya). Perusahaan melakukan rekayasa konstruksi tambak dalam mengolah tanah berpasir untuk menjadi petak tambak sehingga air tidak meresap ke dalam pasir. Pembuatan konstruksi tambak juga memperhatikan sifat korosif air laut, sehingga teknik konstruksi yang digunakan dalam membuat petak tambak yaitu konstruksi Biocrete. Konstruksi tersebut memadukan antara semen dan bambu. Bambu digunakan sebagai kerangka yang kemudian di beri semen sehingga menjadi beton dan digunakan sebagai dinding tambak. Bagian dasar tambak dan lapisan dinding tambak menggunakan plastik PE (Polyethilen) sehingga tidak terjadi peresapan air laut ke darat.
Kawasan tambak dibuat sedemikian rupa sehingga usaha berjalan lancar. Pembuatan Green Belt di selatan tambak dimaksudkan untuk mencegah erosi air laut dan angin yang membawa pasir sehingga dapat mengakibatkan pendangkalan tambak. Pembuatan Green Belt dilakukan dengan kerjasama antara PT. Indokor Bangu Desa dan Fakultas Kehutanan UGM. Perusahaan menanam 600 pohon cemara udang sebagai Green Belt. Selain Green Belt di sebelah selatan tambak juga dibuat parit sepanjang kawasan tambak dengan kedalaman ± 5 meter yang berjarak 150 meter dari laut yang berfungsi sebagi pelindung dari ombak besar dan angin yang membawa pasir sehingga pendangkalan tidak terjadi di petak tambak. Area perusahaan juga ditanami tumbuhan pandan dan semak serta dipasang pagar bambu sehingga kawasan tambak aman dari pencurian maupun hewan pemangsa lainnya. Jalan masuk ke area tambak berupa jalan pasir berbatu yang dibuat perusahaan sehingga mempermudah dalam aksesibilitas.